KASIH BUKANLAH PERASAAN

Kasih, dalam pengertian Kristiani, bukanlah sebuah emosi. Kasih adalah suatu keadaan dari kehendak, bukan dari perasaan; keadaan dari kehendak yang secara natural kita miliki terhadap diri kita, dan harus belajar kita miliki terhadap orang lain. Kemurahan berarti kasih, dalam pengertian Kristiani.

RASA SUKA BUKANLAH KASIH
Rasa suka atau rasa sayang yang natural terhadap orang membuat kita lebih mudah untuk bersikap ‘murah hati’ terhadap mereka. karena itu, biasanya kita bertanggung jawab untuk memperbesar rasa sayang kita – untuk ‘menyukai’ orang sedalam mungkin – bukan karena kesukaan (rasa menyukai) ini sendiri merupakan kemurahan, melainkan karena kesukaan ini mendukung kemurahan.

DUDUK UNTUK MEMPRODUKSI KASIH SAYANG
Tetapi meskipun rasa suka natural kita biasanya belum ada pada seseorang, akan sangat menjadi keliru jika kita berpikiri bahwa cara untuk bersikap murah hati adalah dengan duduk dan berusaha untuk memproduksi perasaan-perasaan kasih sayang. Beberapa orang memang memiliki temperamen yang ‘dingin’; itu mungkin tidak menguntungkan bagi mereka, tetapi itu bukanlah dosa seperti halnya memiliki pencernaan yang buruk bukanlah dosa; dan hal itu tidak membuat mereka kehilangan kesempatan atau memiliki dalih untuk melepaskan diri dari tanggung jawab untuk belajar bermurah hati.

RAHASIA AGUNG
Aturan yang berlaku bagi kita semua sangat sederhana. Jangan membuang waktu dengan mengkhawatirkan apakah anda ‘mengasihi’ sesama Anda; bertindaklah seakan-akan Anda mengasihi mereka. segera setelah kita melakukannya, kita menemukan salah satu rahasia yang agung. Ketika anda bersikap seakan-akan Anda mengasihi seseorang, Anda akan segera menjadi mengasihinya. Jika anda melukai seseorang yang tidak Anda sukai. Anda akan mendapati diri Anda semakin tidak menyukainya. Jika Anda berbuat baik kepadanya, Anda akan mendapati ketidaksukaan Anda berkurang.

SATU PENGECUALIAN
Tetapi tentu saja ada satu pengecualian. Jika Anda berbuat baik kepadanya bukan untuk menyenangkan Allah dan menaati hukum tentang kemurahan, tetapi untuk menunjukkan kepadanya betapa Anda adalah seorang yang pandai mengampuni, dan untuk membuat dirinya merasa berhutang pada Anda, dan kemudian duduk sambil menunggu ia ’berterima kasih’, Anda mungkin akan kecewa. Tetapi setiap kali kita berbuat baik kepada orang lain, hanya karena orang itu adalah pribadi yang diciptakan (seperti kita) oleh Allah, dan berharap agar ia bahagia sebagaimana kita berharap agar diri kita bahagia, kita pasti belajar untuk sedikit lebih mengasihinya atau, paling tidak, untuk sedikit mengurangi rasa ketidaksukaan kita kepadanya

(nukilan buku ”mere christianity” karya C.S. Lewis)

Leave a Reply