KASIH ITU EGOIS

Sepenggal nukilan buku “mere christianity” karya C.S. Lewis ditambah perenunganku tentang kasih…

PERBUATANNYA ≠ ORANGNYA
“kasihilah sesamamu” bukan berarti “sukailah dia” atau “milikilah perasaan tertarik kepadanya”. Mengasihi orang lain ternyata tidak berarti mengganggap diri mereka menyenangkan. Sebab banyak orang yang membayangkan mengasihi orang lain berarti menganggap bahwa bagaimanapun juga mereka tidak terlalu jahat atau berkelakuan buruk, padahal jelas sekali bahwa mereka berkelakuan buruk.

Saat saya memikirkannya, saya ingat guru-guru Kristen pernah mengajarkan kepada saya bahwa saya harus membenci perbuatan-perbuatan jahat seseorang, tetapi tidak membenci orang jahat itu melainkan mengasihinya: atau, seperti yang akan mereka katakan, membenci dosanya tetapi bukan orang berdosanya.

Lama saya menganggap bahwa ini adalah pemisahan yang tolol dan mustahil: bagaimana Anda bisa membenci apa yang dilakukan seseorang dan tidak membenci orangnya? Tetapi bertahun-tahun kemudian saya mengerti bahwa saya telah melakukannya terhadap seseorang seumur hidup saya—yaitu diri saya.

Saya belum pernah sedikitpun merasa kesulitan untuk melakukannya. Bahkan, satu-satunya alasan mengapa saya membenci perbuatannya adalah karena saya mengasihi orangnya. Hanya karena saya mengasihi diri saya, saya menyesal mendapati bahwa saya adalah tipe orang yang melakukan hal-hal seperti sikap saya yang sering sombong, sering ceroboh, suka marah. Tetapi kekristenan menginginkan kita untuk membenci perbuatan-perbuatan itu seperti halnya kita membenci hal-hal di dalam diri kita: menyesal karena orang itu telah melakukan hal-hal semacam itu, dan berharap, bila mungkin, berharap bahwa dengan cara tertentu suatu saat, di suatu tempat, ia bisa dipulihkan dan kembali menjadi orang yang penyayang

Ujian yang sesungguhnya adalah ini. Umpamanya kita mendengar kisah tentang kelakuan jahat yang dilakukan orang lain. Lalu umpamanya terjadi sesuatu yang mengungkapkan bahwa kisah itu mungkin tidak sepenuhnya benar, atau tidak seburuk yang diberitakan. Apakah yang pertama dirasakan oleh kita adalah, “syukur kepada Allah, ternyata mereka tidak sejahat itu,” atau apakah yang dirasakan adalah kekecewaan, dan bahkan tekad untuk mempertahankan kisah yang pertama semata-mata demi kesenangan yang diperoleh dengan membayangkan yang sejahat-jahatnya tentang orang-orang di sekitar kita itu? Jika yang muncul dalam pikiran kita adalah yang kedua, maka saya khawatir itu adalah langkah pertama dalam sebuah proses yang jika kita ikuti sampai selesai, akan menjadikan kita sebagai iblis. Anda lihat, seseorang sedang mulai berharap bahwa yang hitam itu menjadi lebih hitam lagi. Jika kita membiarkan keinginan itu menguasai kita, di kemudian hari kita akan berharap untuk melihat abu-abu sebagai hitam, adan kemudian untuk melihat putih itu sendiri sebagai hitam. Kebencian pada orang bukan pada perbuatannya hadir di dalam diri kita. Akhirnya, kita akan bersikeras melihat segala sesuatu—Allah dan teman-teman kita dan termasuk diri kita—sebagai pribadi yang jahat, dan tidak mampu untuk berhenti melakukannya.

KASIH ITU EGOIS?
Allah mengasihi kita bukan karena kualitas-kualitas apapun yang menarik dan menyenangkan yang kita pikir kita miliki. Allah menunjukkan bahwa kasih itu tidak egois. Dia sadar kita memiliki kelemahan, namun dia tetap mengasihi kita. Dia sabar. Dia juga mau melakukan sesuatu untuk kita karena kasih pada kita. Jika Allah egois, untuk apa Dia repot-repot mengirimkan Anak-Nya untuk menghapuskan dosa kita.

Oleh karena itu alangkah egoisnya jika kita mengatakan memiliki kasih atau cinta, tetapi tidak mau melakukan sesuatu ATAU tidak punya waktu untuk orang lain melainkan hanya berharap mendapatkan perhatian, tidak mau melayani, tidak mau menerima orang seutuhnya dalam kelebihan dan juga kelemahannya, dan tidak mau sabar. KASIH itu TIDAK egois.

Leave a Reply